Aqiqah: Penafsiran, Sejarah, Dalil, serta Tata Metode Aqiqah

Berita

Kelahiran serta kematian merupakan suatu yang tentu di dunia ini. Tiap terdapat orang yang lahir ke muka bumi, di dikala yang sama pula terdapat yang wafat dunia.

Tidak cuma tiap hari, namun tiap detik suara tangisan balita pastilah terdengar di salah satu belahan dunia.

Apabila seorang wafat, hingga butuh terdapat jadwal yang wajib disiapkan. Antara lain merupakan pemandian jenazah, sholat jenazah, pengantaran ke pemakaman serta sebagainya.

Kemudian, gimana untuk mereka yang baru lahir ke muka bumi?

Mereka pula mempunyai jadwal yang wajib disiapkan. Di dalam Islam, terdapat ibadah yang diperuntukkan untuk manusia yang baru lahir ke dunia ini.

Ibadah tersebut bernama aqiqah.

Nah, pada postingan kali ini kita hendak bahas secara lebih perinci tentang aqiqah.

Pengertian aqiqah jakarta timur

Apabila merujuk pada bahasa arab, aqiqah mempunyai makna ialah memutus serta melubangi. Dalam penafsiran secara universal, aqiqah merupakan kegiatan ibadah menyembelih hewan berbentuk kambing bagaikan wujud rasa syukur atas lahirnya seseorang anak.

Hukum atas ibadah ini berbeda bersumber pada komentar ulama. Terdapat yang berkata kalau ibadah aqiqah hukumnya harus, terdapat yang berkata sunnah mu’ akad serta adapula yang berkata sunnah.

Dari seluruh komentar yang terdapat, yang sangat shahih merupakan komentar yang berkata kalau hukum aqiqah merupakan sunnah mu’ akad. Maksudnya ini merupakan ibadah yang memanglah diajarkan buat dilaksanakan.

Dalil

Dalil atas perintah ibadah ini merupakan hadist Nabi SAW. Rasulullah shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda.“ Seluruh balita tergadaikan dengan aqiqah- nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan( kambing), diberi nama, serta dicukur rambutnya.”( Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, serta lain- lainnya).

Setelah itu dari Salman bin‘ Amir Ad- Dhabiy mengatakan bila Rasulullah bersabda,“ Aqiqah dilaksanakan sebab kelahiran balita, hingga sembelihlah hewan serta hilangkanlah seluruh kendala darinya.”( Shahih Hadits Riwayat Bukhari).

Kemudian dari Samurah bin Jundab mengatakan bila Rasulullah bersabda,“ Seluruh anak balita tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih hewan( kambing), diberi nama serta dicukur rambutnya.”[Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’ I 7/ 166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/ 7- 8, 17- 18, 22, Angkatan darat(AD) Darimi 2/ 81, serta lain- lainnya].

Sejarah

Penerapan aqiqah ialah penyembelihan seekor hewan bagaikan bagian dari upacara kelahiran seseorang anak nyatanya telah sempat dicoba di era jahiliyah.

Tetapi, penerapannya pasti berbeda dengan apa yang sudah dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

Buraida mengatakan, kalau dulu pada masa jahiliyah bila salah satu di antara mereka mempunyai anak, hingga orang itu hendak menyembelih kambing serta melumuri kepala balita itu dengan darah kambing.

Melumuri kepala balita dengan darah kambing? nampak mengerikan, bukan?

Di dalam Islam tata metode tersebut diganti jadi yang lebih manusiawi.

Kemudian, gimana tata metode aqiqah yang sudah dianjurkan Islam?

Tata Cara

1. Waktu Pelaksanaan

Hari penerapan ibadah ini umumnya dicoba 7 hari sehabis anak lahir. Dapat pula dilaksanakan 14 ataupun 21 hari setelahnya. Sebagaimana hadist Nabi SAW. Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, melaporkan kalau Nabi Muhamaad SAW bersabda,“ Aqiqah itu disembelih di hari ke 7 ataupun hari ke 14 ataupun ke 21( HR. Baihaqi).

Tetapi, tidak permasalahan buat melakukan aqiqah di waktu- waktu yang lain.

Tidak butuh terpaku pada hari ketujuh beserta kelipatannya. Apabila keadaan orang tua mempunyai kesusahan secara finansial, hingga aqiqah dapat dikondisikan pada waktu dimana orang tua tersebut sanggup buat melaksanakannya.

2. Jumlah Hewan

Terdapat perbandingan jumlah hewan yang disembelih antara anak yang berjenis kelamin pria serta anak yang berjenis kelamin wanita.

Untuk anak pria yang baru dilahirkan, hingga aqiqahnya merupakan dengan menyembelih 2 ekor kambing. Ada pula buat anak wanita diaqiqahkan dengan cuma satu kambing.

Sebagaimana pada hadist Nabi SAW.

Aisyah mengatakan bila Rasulullah bersabda,“ Balita pria diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama serta balita wanita satu kambing.”[Shahih, Hadits Riwayat Ahmad]3. Mencukur Rambut Balita.

Sehabis penyembelihan hewan kambing sudah dilaksanakan. Hingga ibadah berikutnya merupakan dengan mencukuri/ menggunduli kepala balita.

Sebagaimana hadist Nabi SAW,“ Seluruh anak balita tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih hewan( kambing), diberi nama serta dicukur rambutnya.”[Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’ I 7/ 166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/ 7- 8, 17- 18, 22, Angkatan darat(AD) Darimi 2/ 81, serta lain- lainnya].

4. Melumuri dengan minyak wangi.

Sehabis kepala balita digunduli, hingga kepala tersebut bisa dilumuri dengan minyak wangi. Inilah yang membedakan dengan era jahiliyah.

Pada era tersebut, kepala balita dilumuri dengan darah kambing sebaliknya di Islam, kepala balita dilumuri dengan minyak wangi.

5. Bersedekah

Terakhir merupakan dengan bersedekah. Perhitungan sedekah tersebut diambil dari berat rambut sang balita yang dipotong.

Sehabis rambut balita dipotong, hingga rambut- rambut tersebut dikumpulkan setelah itu ditimbang. Hasil berat timbangan tersebut setelah itu dikonversi dalam wujud perak.

Katakanlah sehabis dipotong terkumpul berat sebanyak 2 gr. Hingga, owner wajib bersedekah perak sebanyak 2 gr ataupun yang senilai dengan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *